Suasana sidang di markas Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) di New York mendadak memanas setelah Amerika Serikat melontarkan kritik keras kepada Rusia dan Cina. Washington menuding kedua negara tersebut berupaya melindungi Iran dari tekanan sanksi internasional terkait program nuklirnya.
Duta Besar AS untuk PBB, Mike Waltz, menyampaikan kekecewaan dalam pertemuan Komite 1737 PBB. Ia menilai Rusia dan Cina terus menghambat kerja komite yang bertugas mengawasi penerapan sanksi terhadap program nuklir serta pengembangan senjata Iran.
Menurut Waltz, pertemuan yang seharusnya berlangsung rutin berubah menjadi tegang karena sikap kedua negara tersebut. Ia menuding Moskow dan Beijing secara konsisten memblokir langkah-langkah komite yang dinilai penting bagi pengawasan sanksi internasional.
“Pertemuan hari ini seharusnya menjadi agenda rutin. Namun rekan kami dari Rusia dan Cina kembali menghalangi kerja penting komite ini sebagai bentuk kolaborasi mereka dengan rezim Iran,” ujar Waltz dalam pernyataannya.
Waltz juga mengungkapkan bahwa pada 6 Maret lalu, delegasi Rusia dan Cina menolak laporan berkala 90 harian yang merupakan mandat PBB. Menurutnya, sikap tersebut diduga berkaitan dengan kepentingan kerja sama militer antara kedua negara dengan Iran.
Ia menuding Rusia masih menjalin hubungan pertahanan dengan Teheran, termasuk pembelian drone dan rudal balistik untuk kepentingan perang. Di sisi lain, Rusia juga disebut memasok helikopter serbu kepada Iran pada awal tahun ini.
“Faktanya, Rusia dan Cina tidak ingin komite ini berjalan efektif, bukan karena alasan hukum, tetapi karena mereka ingin melindungi mitra mereka, Iran,” tegas Waltz.
Namun tudingan tersebut langsung dibantah oleh pihak Rusia dan Cina. Duta Besar Rusia untuk PBB, Vasily Nebenzya, menilai Amerika Serikat sengaja membesar-besarkan ancaman nuklir Iran.
Ia menuduh Washington menciptakan ketegangan global untuk mencari pembenaran atas kemungkinan aksi militer terhadap Teheran. Pandangan serupa juga disampaikan perwakilan Cina di PBB, Fu Cong, yang menilai Amerika Serikat justru menjadi pemicu memburuknya situasi.
Menurutnya, penggunaan kekuatan militer oleh Washington di tengah proses diplomasi membuat upaya negosiasi terkait isu nuklir Iran semakin sulit mencapai titik temu.
Ketegangan ini terjadi di tengah situasi kawasan Timur Tengah yang masih memanas. Dua minggu sebelumnya, Amerika Serikat melancarkan serangan terhadap tiga fasilitas nuklir Iran. Presiden Donald Trump menyatakan langkah tersebut diperlukan untuk mencegah Iran mengembangkan bom nuklir dalam waktu dekat.
Tim Redaksi










