- HALMAHERA TENGAH, 21 MARET 2026
– Kekuasaan yang langgeng bukan terletak pada jabatan tinggi seorang pemimpin, melainkan pada rakyat yang menjadi dasar dari segala kekuasaan. Hal itu ditegaskan melalui serangkaian pidato dan pesan yang mengedepankan perhatian pada kesejahteraan rakyat jelata atau wong cilik.
“Jadikan deritaku ini sebagai kesaksian, bahwa kekuasaan seorang presiden sekalipun ada batasnya. Karena kekuasaan yang langgeng hanyalah kekuasaan rakyat,” demikian salah satu pesan yang mengingatkan akan esensi kekuasaan yang berasal dari rakyat.
Pembangunan dan prestasi yang diraih tidak dianggap sebagai akhir dari perjuangan. “Janganlah mengira kita semua sudah cukup berjasa dengan segi tiga warna. Selama masih ada ratap tangis di gubuk-gubuk, pekerjaan kita selesai! Berjuanglah terus dengan mengucurkan sebanyak-banyak keringat,” tegas pesan yang menekankan pentingnya fokus pada kesejahteraan yang merata.
Pesan lain juga mengingatkan akan akar pemimpin yang harus tetap terhubung dengan rakyatnya. “Janganlah kita lupakan demi tujuan kita, bahwa para pemimpin berasal dari rakyat dan bekerja untuk rakyat. Jangan sekali-kali pemimpin itu menjauhkan diri dari rakyat.”
Empati mendalam terhadap kondisi rakyat miskin juga disampaikan melalui ungkapan, “Tuhan bersemayam di gubuknya si miskin,” yang menunjukkan bahwa perhatian pada kelompok yang kurang mampu adalah bagian penting dari nilai-nilai kepemimpinan.
Selain itu, konsep pemimpin sebagai pelayan rakyat juga ditegaskan dengan jelas: “Yang tuan-tuan hadapi adalah manusia, impian-impian manusia, cita-cita manusia dan hari depan manusia,” yang mengedepankan pendekatan humanis dalam menjalankan kekuasaan.
“Bung”










