Presiden Prabowo Subianto menyoroti persoalan kesenjangan ekonomi dan tingginya angka stunting di Indonesia saat berbicara dalam forum roundtable Business Summit di Washington, D.C., Amerika Serikat, Rabu (18/2/2026) waktu setempat.
Dalam pidatonya, Presiden menceritakan pengalaman panjangnya mengikuti lima kali kontestasi pemilihan presiden sejak 2004 hingga 2024. Selama masa kampanye, ia mengaku berkeliling ke berbagai daerah dan desa, yang membawanya memahami langsung persoalan mendasar yang dihadapi masyarakat.
Prabowo mengungkapkan bahwa ia sempat terkejut melihat kondisi anak-anak di pedesaan yang pertumbuhannya tidak sesuai dengan usia. Dari pengalaman tersebut, ia mengetahui bahwa sekitar seperempat anak Indonesia mengalami stunting.
Menurutnya, stunting tidak hanya berdampak pada pertumbuhan fisik, tetapi juga pada perkembangan otak, tulang, dan otot, sehingga berpotensi menurunkan kualitas generasi masa depan.
Presiden menegaskan bahwa kondisi tersebut tidak boleh dibiarkan karena dapat melemahkan daya saing bangsa dalam jangka panjang.
Selain masalah kesehatan, Prabowo juga menyoroti masih lebarnya kesenjangan ekonomi di Indonesia. Ia menyebut adanya jarak yang signifikan antara kelompok masyarakat berpenghasilan tinggi dan warga yang masih hidup dalam kemiskinan.
Untuk mengatasi persoalan tersebut, pemerintah menerapkan kebijakan efisiensi anggaran. Dana hasil penghematan diarahkan kembali untuk membiayai berbagai program prioritas yang menyentuh langsung kebutuhan masyarakat.
Salah satu program utama yang disoroti adalah Makan Bergizi Gratis (MBG) bagi anak-anak. Program ini dinilai sebagai investasi jangka panjang dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia.
Presiden juga menyampaikan bahwa program tersebut mendapat perhatian dari lembaga riset internasional, termasuk Rockefeller Institute, yang melakukan kajian langsung di Indonesia.
Berdasarkan sejumlah studi, Prabowo menyebut setiap satu dolar yang diinvestasikan dalam program makan bergizi bagi anak dapat memberikan manfaat ekonomi jangka panjang hingga puluhan kali lipat, sekaligus memperkuat fondasi pembangunan nasional.










