Jakarta – Perekonomian Indonesia menunjukkan kinerja yang positif sepanjang tahun 2025 dengan pertumbuhan mencapai 5,11 persen secara tahunan (year on year/yoy). Capaian tersebut menempatkan Indonesia sebagai salah satu negara dengan tingkat pertumbuhan ekonomi tertinggi sekaligus mampu menjaga defisit anggaran pada level yang relatif rendah.
Kinerja ekonomi yang kuat ini turut didukung oleh pengelolaan fiskal yang disiplin dan terukur. Stabilitas tersebut terus berlanjut hingga awal tahun 2026, tercermin dari postur Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) per 31 Januari 2026 yang tetap dalam kondisi sehat dan terkendali.
Berdasarkan data terbaru, realisasi penerimaan negara hingga akhir Januari 2026 mencapai Rp172,7 triliun atau sekitar 5,5 persen dari target tahun berjalan. Sementara itu, realisasi belanja negara tercatat sebesar Rp227,3 triliun atau 5,9 persen dari total pagu anggaran.
Dengan komposisi tersebut, defisit APBN berada pada level Rp54,6 triliun atau setara dengan 0,21 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB). Angka ini menunjukkan bahwa ruang fiskal masih terjaga dan berada dalam batas aman.
Pemerintah menegaskan bahwa kondisi APBN yang solid, sehat, dan adaptif menjadi instrumen penting dalam menjaga momentum pertumbuhan ekonomi nasional. Kebijakan fiskal terus diarahkan untuk mendukung stabilitas, memperkuat daya tahan ekonomi, serta mendorong pertumbuhan yang inklusif dan berkelanjutan.
Ke depan, APBN akan tetap dioptimalkan sebagai shock absorber dalam menghadapi dinamika global sekaligus memastikan program prioritas nasional berjalan efektif demi meningkatkan kesejahteraan masyarakat.










