Kepergian Bapak Try Sutrisno Wakil Presiden Ke-6 Republik Indonesia, meninggalkan jejak penting dalam perjalanan sejarah politik dan kehidupan kebangsaan Indonesia. Ia bukan hanya dikenal sebagai seorang jenderal dan negarawan, tetapi juga sebagai figur yang konsisten mengingatkan bangsa ini agar tidak kehilangan arah ideologisnya. Di tengah dinamika politik yang sering berubah-ubah, Try Sutrisno berdiri sebagai suara yang teguh menyerukan pentingnya kembali pada fondasi dasar negara: Pancasila dan UUD 1945 dalam ruh aslinya.
Bagi Try Sutrisno, pengabdian kepada bangsa tidak berhenti pada jabatan ataupun masa aktif dalam pemerintahan. Setelah menuntaskan tugas-tugas kenegaraan, ia tetap tampil sebagai sosok yang tidak pernah berhenti berbicara tentang masa depan Indonesia. Ia kerap mengingatkan bahwa kekuatan bangsa ini tidak hanya terletak pada sumber daya alam atau besarnya populasi, tetapi pada kesetiaan terhadap nilai-nilai dasar yang dirumuskan oleh para pendiri bangsa.
Salah satu gagasan yang secara konsisten ia suarakan adalah pentingnya mengembalikan konstitusi kepada semangat UUD 1945. Menurutnya, naskah asli konstitusi tersebut bukan sekadar dokumen hukum, melainkan hasil perenungan filosofis para pendiri bangsa yang memahami betul karakter masyarakat dan kondisi geopolitik Indonesia. Di dalamnya terkandung konsep negara yang berakar pada gotong royong, kedaulatan rakyat, serta sistem kenegaraan yang dirancang sesuai dengan corak negara kepulauan yang majemuk.
Try Sutrisno memandang bahwa berbagai perubahan konstitusi yang terjadi pasca-reformasi perlu dikaji secara kritis, karena berpotensi menggeser ruh dasar sistem kenegaraan yang telah dirumuskan sejak awal kemerdekaan. Dalam pandangannya, bangsa ini harus berani melakukan refleksi mendalam: apakah arah sistem ketatanegaraan yang berjalan hari ini masih setia pada cita-cita para pendiri republik, atau justru semakin menjauh dari visi awal yang dirumuskan pada saat kemerdekaan.
Di sinilah letak konsistensi sikap Pak Try. Ia tidak sekadar bernostalgia pada masa lalu, melainkan mengajak generasi muda untuk kembali membaca ulang fondasi ideologis bangsa. Ia percaya bahwa masa depan Indonesia tidak bisa dibangun hanya dengan pragmatisme politik atau kepentingan jangka pendek, tetapi harus berakar pada kesadaran sejarah dan kesetiaan terhadap nilai-nilai dasar negara.
Kepergiannya menjadi pengingat bahwa bangsa ini masih membutuhkan figur-figur yang berani berbicara tentang arah besar Indonesia, bukan sekadar tentang kekuasaan. Dedikasi dan pengabdiannya menunjukkan bahwa menjaga negara tidak hanya dilakukan melalui jabatan atau struktur kekuasaan, tetapi juga melalui keberanian intelektual dan moral untuk terus mengingatkan bangsa agar tetap setia pada jati dirinya.
Kini, ketika Pak Try Sutrisno telah berpulang, yang tersisa bukan hanya kenangan tentang seorang jenderal atau mantan pejabat negara, melainkan warisan pemikiran tentang pentingnya menjaga fondasi ideologis republik. Pesannya kepada generasi muda tetap relevan: percaya pada kekuatan Pancasila, setia pada cita-cita konstitusi, dan menjaga arah perjalanan bangsa agar tetap sesuai dengan semangat kemerdekaan yang diperjuangkan oleh para pendiri Republik Indonesia.
Selamat jalan Pak Try.
Terima kasih atas dedikasi dan pengabdianmu kepada bangsa dan negara ini. Dan terima kasih tak terhingga juga atas semua spirit, ilmu dan pengalaman yang telah dibagi kepada kami.
Perjuangan ini belum selesai. 🫡✊🏽
Salam Pancasila ✋🏽










