Ketua Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI) Organisasi Wilayah Maluku Utara, Dr. Kasman Hi Ahmad, S.Ag., M.Pd., secara resmi melantik pengurus ICMI Organisasi Daerah (Orda) Kabupaten Halmahera Timur, Senin (23/2/2026).
Pelantikan tersebut turut dihadiri Bupati Halmahera Timur Ubaid Yakub, Sekretaris Daerah Haltim Ricky C.H. Richfat, Sekretaris ICMI Orwil Maluku Utara, jajaran pengurus ICMI, serta pimpinan Organisasi Perangkat Daerah (OPD) di lingkungan Pemerintah Kabupaten Halmahera Timur.
Dalam sambutannya, Kasman menegaskan bahwa ICMI yang berdiri sejak 1990 dibangun di atas tiga wawasan utama, yakni wawasan keislaman, kecendekiawanan, dan kebangsaan. Ketiga pilar tersebut menjadi landasan dalam membangun peradaban sekaligus memperkuat kontribusi umat bagi bangsa dan negara.
“Islam, bangsa, dan cendekiawan merupakan tiga elemen yang tidak dapat dipisahkan dalam perjalanan ICMI. Inilah fondasi utama lahirnya organisasi besar ini,” ujarnya.
Ia menjelaskan, ICMI juga memiliki lima pokok gerakan yang dikenal dengan konsep 5K, yaitu peningkatan kualitas iman dan takwa, kualitas ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek), kualitas berpikir, kualitas kerja, serta kualitas hidup. Kelima prinsip tersebut dijabarkan dalam 19 program strategis, termasuk penguatan riset dasar dan riset pengembangan sebagai bentuk kontribusi nyata para cendekiawan Muslim.
Menurut Kasman, kepengurusan ICMI Maluku Utara saat ini diisi oleh figur-figur intelektual yang memiliki kapasitas dan komitmen kuat dalam mendukung pembangunan daerah. Bahkan, ICMI Maluku Utara sebelumnya dipercaya oleh Pemerintah Provinsi untuk melakukan riset terhadap empat kesultanan besar di wilayah tersebut, yakni Kesultanan Ternate, Kesultanan Tidore, Kesultanan Bacan, dan Kesultanan Jailolo.
Riset tersebut dilakukan sebagai respons atas minimnya literatur sejarah lokal yang ditulis dari perspektif masyarakat setempat. Selama ini, referensi sejarah yang diakses generasi muda lebih banyak berasal dari penulis Eropa, sementara narasi lokal yang memiliki nilai historis dan kultural belum tergali secara optimal.
“Karena itu kami melakukan penelitian secara mendalam, termasuk menelusuri arsip di Belanda, Portugis, dan Spanyol untuk memastikan keakuratan data sejarah. Tujuannya agar generasi mendatang memiliki referensi yang lebih utuh dan berimbang,” jelasnya.
Hasil penelitian tersebut telah dibukukan dalam karya berjudul Empat Kesultanan dan Peradaban Maluku Utara, yang disebut sebagai karya monumental ICMI bagi daerah dan bangsa. Buku tersebut rencananya akan diserahkan kepada ICMI Pusat untuk selanjutnya didistribusikan ke Perpustakaan Nasional serta sejumlah perpustakaan di Indonesia.
Pelantikan pengurus ICMI Orda Halmahera Timur diharapkan menjadi momentum untuk memperkuat peran cendekiawan Muslim dalam pembangunan daerah, khususnya melalui penguatan riset, pengembangan ilmu pengetahuan, serta pelestarian identitas sejarah dan budaya Maluku Utara.










