JAKARTA – Pemerintah menegaskan bahwa pemanfaatan kecerdasan artifisial atau Artificial Intelligence (AI) dalam dunia pendidikan di Indonesia tidak akan dibatasi secara kaku. Teknologi tersebut diposisikan sebagai alat bantu untuk memperkuat proses pembelajaran, bukan menggantikan peran manusia, khususnya guru dan dosen.
Pelaksana tugas (Plt) Sekretaris Jenderal Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Sesjen Kemendiktisaintek), Badri Munir Sukoco, mengatakan pendekatan pemerintah terhadap penggunaan AI bersifat adaptif dan terbuka mengikuti perkembangan teknologi yang semakin pesat.
“Secara umum pendekatan kita terhadap AI dalam pendidikan bukan pendekatan yang restriktif. Kita melihat AI sebagai sebuah tools atau alat,” ujar Badri dalam dialog bersama media bertajuk “Ngopi Bareng Media dan Iftar” di Jakarta, (13/3/2026).
Menurutnya, dalam konteks pendidikan, AI harus diposisikan sebagai sarana pendukung proses belajar mengajar, bukan solusi instan yang menggantikan peran manusia dalam menyelesaikan berbagai persoalan pendidikan.
Ia menjelaskan, pemanfaatan teknologi tersebut dapat membuka peluang inovasi dalam metode pembelajaran, seperti pengembangan materi ajar yang lebih interaktif, personalisasi pembelajaran, hingga pemanfaatan data untuk meningkatkan kualitas pendidikan.
Meski demikian, Badri menekankan penggunaan teknologi tetap harus disertai kebijaksanaan agar manfaatnya dapat dirasakan secara optimal tanpa mengabaikan nilai-nilai dasar pendidikan.
“Yang kedua adalah bagaimana kita menjaga agar pemanfaatan AI ini memberikan manfaat sebesar mungkin, tetapi tetap digunakan secara bijaksana,” katanya.
Badri menilai, baik pendidik maupun peserta didik perlu memiliki pemahaman yang kontekstual terhadap penggunaan teknologi. Dengan demikian, AI tidak hanya dimanfaatkan secara teknis, tetapi juga secara etis dan bertanggung jawab.
Di tengah perkembangan pesat media dan teknologi pembelajaran, sistem pendidikan juga dituntut mampu merespons perubahan secara adaptif agar teknologi dapat dimanfaatkan secara maksimal.
Melalui pendekatan tersebut, pemerintah berharap integrasi teknologi, termasuk AI, dapat memperkuat kualitas pembelajaran sekaligus mendorong lahirnya inovasi pendidikan yang relevan dengan kebutuhan masa depan.
Tim Redaksi










