Perundingan antara Rusia dan Ukraina di Jenewa berakhir tanpa terobosan signifikan setelah dua hari pembicaraan yang dimediasi oleh Amerika Serikat. Kedua pihak menilai proses negosiasi berlangsung sulit meski tetap berjalan secara profesional.
Dilaporkan Al Jazeera pada Kamis (19/2/2026), sesi hari pertama berlangsung selama beberapa jam, sementara pertemuan pada hari kedua berjalan lebih singkat. Sejumlah pengamat menilai durasi yang lebih singkat tersebut bukan sinyal positif bagi kemajuan perundingan.
Salah satu isu utama yang menjadi kendala adalah persoalan wilayah. Moskow mendesak Kyiv untuk menyerahkan sisa wilayah Donetsk yang belum berada di bawah kendali pasukan Rusia.
Pemerintah Ukraina menolak tuntutan tersebut dan meminta jaminan keamanan yang kuat dari sekutu Barat guna mencegah potensi serangan di masa depan. Kepala negosiator Rusia, Vladimir Medinsky, menyebut pembicaraan berlangsung sulit namun tetap konstruktif.
Ia juga menyampaikan bahwa perundingan lanjutan akan segera dilakukan, meski belum ada jadwal pasti. Sementara itu, Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy menilai terdapat kemajuan, tetapi mengakui perbedaan posisi kedua pihak masih cukup besar.
Zelenskyy turut mengkritik tekanan publik dari Donald Trump yang meminta Ukraina mempertimbangkan sejumlah konsesi. Ia menegaskan rakyat Ukraina tidak akan menerima skema yang mengharuskan penyerahan wilayah melalui referendum.
Menurut Zelenskyy, pembahasan mengenai status wilayah dapat dilakukan apabila disertai jaminan keamanan yang jelas dan mengikat. Ia juga mengingatkan bahwa konsesi tanpa perlindungan yang kuat berpotensi memberi waktu bagi Rusia untuk memulihkan kekuatan militernya.
Di sisi lain, Rusia tetap bersikukuh agar keuntungan wilayahnya diakui secara internasional serta menuntut Ukraina tidak bergabung dengan NATO. Moskow juga menolak kemungkinan pengerahan pasukan penjaga perdamaian internasional di wilayah konflik.










