Pulau Berhala, Sumatra Utara, bukan sekadar gundukan tanah di tengah laut. Pulau terluar ini menjadi titik nol kedaulatan Indonesia, langsung berbatasan dengan negara tetangga, Malaysia.
Posisi strategis tersebut membuat Korps Marinir menempatkan pengamanan maksimal. Prajurit dari Satuan Tugas Pengamanan Pulau Terluar (Satgas Pam Puter) menjaga pulau ini selama 24 jam, termasuk di tengah ibadah puasa Ramadan.
Komandan Pos (Danpos) Pulau Berhala, Lettu Marinir Eko Kurniawan, memimpin langsung operasi pengamanan. Ia menjelaskan, pasukannya menerapkan standar kesiagaan tinggi karena pulau ini menghadap jalur pelayaran internasional yang padat.
“Kami memulai rutinitas dengan siaga fajar. Langkah ini sebagai bentuk kesiapsiagaan awal untuk mengantisipasi setiap perkembangan situasi di pulau terluar,” ujar Eko saat memimpin patroli, Senin (23/2).
Prajurit menyisir sektor-sektor krusial, memeriksa titik strategis dari daratan hingga bibir pantai. Tujuannya jelas: memastikan tidak ada celah bagi aktivitas ilegal atau pergerakan kapal asing mencurigakan di sekitar perairan.
Meski tengah menjalani ibadah puasa, semangat dan profesionalisme para prajurit tidak berkurang. Menjelang matahari terbenam, Eko kembali menginstruksikan siaga senja untuk mengantisipasi potensi ancaman di malam hari.
Selain patroli, prajurit juga rutin berlatih fisik untuk menjaga kebugaran tubuh, memastikan kesiapan menghadapi segala situasi di garda terdepan pertahanan maritim nasional.










