mediagroupnusantaracom – Maluku Utara kembali menorehkan catatan penting dalam perjalanan demokrasi di daerah. Di provinsi yang mayoritas penduduknya beragama Islam, dengan komposisi sekitar 55 hingga 60 persen, masyarakat menunjukkan sikap politik yang semakin matang dan rasional.
Kehadiran Sherly Tjoanda Laos dalam kontestasi kepemimpinan daerah menjadi momentum bersejarah. Ia tampil membawa dua identitas yang tergolong minoritas di tengah demografi masyarakat. Namun demikian, pilihan rakyat tidak didasarkan pada latar belakang identitas, melainkan pada kapasitas, komitmen, dan visi kepemimpinan yang ditawarkan.
Fenomena ini menjadi bukti bahwa masyarakat Maluku Utara semakin dewasa dalam berdemokrasi. Pertimbangan rasional, rekam jejak, serta kemampuan memimpin menjadi faktor utama dalam menentukan pilihan, menggantikan sentimen primordial yang kerap menjadi isu dalam dinamika politik.
Pengamat menilai, situasi ini mencerminkan kematangan politik masyarakat yang menempatkan kepentingan pembangunan dan kesejahteraan di atas perbedaan latar belakang. Demokrasi tidak lagi dipandang sebagai ajang kompetisi identitas, melainkan sebagai ruang untuk memilih pemimpin terbaik bagi daerah.
Dengan semangat kebersamaan dan toleransi yang terus terjaga, Maluku Utara menunjukkan bahwa keberagaman bukanlah penghalang, melainkan kekuatan dalam membangun daerah. Momentum ini diharapkan menjadi inspirasi bagi daerah lain dalam memperkuat demokrasi yang inklusif, adil, dan berorientasi pada kemajuan bersama.
“(BUNG)”










