Halmahera Tengah
– Sikap tertutup ditunjukkan oleh salah satu penanggung jawab PT Indonesia Weda Bay Industrial Park (IWIP) usai menggelar pertemuan dengan perwakilan warga Desa Lelilef Sawai dan Lelilef Waibulen, Senin (30/03/2026).
Pasca dialog yang berlangsung cukup tegang terkait tuntutan masyarakat ring satu, pihak perusahaan yang sebelumnya mengikuti jalannya pertemuan justru memilih langsung meninggalkan lokasi dan menghindari awak media yang telah menunggu untuk meminta penjelasan resmi.
Wartawan yang berada di lokasi berupaya meminta keterangan mengenai hasil pertemuan, terutama terkait kepastian penyelesaian persoalan air bersih dan sejumlah janji perusahaan kepada warga. Namun, penanggung jawab perusahaan tersebut memilih pergi tanpa memberikan pernyataan apa pun.
Sikap bungkam itu memicu sorotan dan kekecewaan dari masyarakat. Warga menilai perusahaan terkesan sangat aktif membangun citra positif di media sosial, namun justru tidak terbuka saat dimintai penjelasan mengenai persoalan nyata di lapangan.
“Kalau di media sosial ramai bicara program dan janji, harusnya di lapangan juga berani kasih penjelasan ke publik,” ujar salah satu warga.
Momen ketika pihak perusahaan menghindari wartawan dinilai semakin memperkuat rasa kecewa warga yang sejak awal menuntut kepastian, bukan sekadar janji. Aksi besar-besaran yang berlangsung dipicu oleh akumulasi persoalan yang belum kunjung diselesaikan, mulai dari masalah air bersih, debu jalanan, kerusakan atap rumah, dampak ekonomi, hingga transparansi program pemberdayaan.
Di tengah situasi yang masih memanas, warga telah memberikan ultimatum waktu dua hari kepada PT IWIP untuk menunjukkan langkah konkret atas seluruh tuntutan tersebut.
Minimnya penjelasan resmi dari pihak perusahaan usai pertemuan justru memperkuat kesan bahwa komunikasi dengan masyarakat masih jauh dari harapan, padahal persoalan yang dipersoalkan menyangkut kebutuhan dasar dan dampak langsung kehidupan sehari-hari. Sikap memilih bungkam di hadapan wartawan ini pun menjadi sorotan, karena publik menilai perusahaan seharusnya hadir memberi kejelasan, bukan justru meninggalkan pertanyaan di tengah memuncaknya kemarahan warga.
“Bung”










