Desak Pemerintah Buat Jalan Alternatif
Halmahera Tengah, 7 April 2026
– Warga Desa Lukulamo, Kecamatan Weda Tengah, kini dilanda keresahan mendalam akibat masalah kemacetan lalu lintas dan polusi debu yang semakin parah. Situasi ini terjadi akibat padatnya aktivitas truk pengangkut material tambang yang melintasi jalan desa, sehingga mengganggu aktivitas sehari-hari, kesehatan, serta kenyamanan tempat tinggal masyarakat.
Kondisi jalan desa yang sempit dan rusak, ditambah volume kendaraan berat yang terus meningkat, menjadi pemicu utama kemacetan panjang yang terjadi hampir setiap hari. Tidak hanya menghambat mobilitas, masalah ini juga menimbulkan dampak serius bagi kehidupan warga.
Dampak yang Dirasakan Warga
1. Bahaya Kesehatan Akibat Debu Tebal
Debu yang beterbangan terus-menerus menyebabkan gangguan pernapasan seperti sesak napas, batuk, pilek, hingga kasus ISPA dan alergi kulit. Debu juga menempel di rumah-rumah warga, membuat pakaian kotor, dan memaksa warga membersihkan lingkungan berkali-kali dalam sehari.
2. Kemacetan yang Melumpuhkan Aktivitas
Jalan yang tidak memadai membuat arus lalu lintas sering tersendat, terutama pada jam berangkat dan pulang kerja maupun sekolah. Hal ini sangat mengganggu kenyamanan dan membuang waktu produktif masyarakat.
3. Risiko Kecelakaan Mengintai
Lalu lalang kendaraan besar di jalan sempit meningkatkan potensi kecelakaan lalu lintas yang bisa mengakibatkan luka serius hingga korban jiwa. Keselamatan warga, terutama anak-anak, menjadi sangat terancam.
4. Runtuhnya Ekonomi Warga
Usaha kecil dan UMKM yang ada di pinggir jalan mengalami penurunan omzet yang drastis. Lingkungan yang berdebu dan tidak nyaman membuat pembaci enggan berhenti, sehingga pendapatan masyarakat ikut terdampak.
Desakan Segera Dibangun Jalan Alternatif
Melihat kondisi yang semakin tidak manusiawi ini, masyarakat mendesak Pemerintah Kecamatan Weda Tengah, Pemerintah Kabupaten Halmahera Tengah, hingga Pemerintah Provinsi Maluku Utara untuk segera bertindak tegas dan serius.
Warga menuntut agar pemerintah segera mencari solusi permanen, salah satunya dengan membangun jalan alternatif khusus yang memisahkan arus lalu lintas kendaraan berat (tambang) dengan jalan umum penghubung Kecamatan ke Kabupaten yang digunakan masyarakat.
“Jalan desa bukan jalan tol untuk kendaraan proyek. Kami butuh solusi segera, jangan biarkan warga terus menderita sakit dan terganggu. Pemerintah harus segera hadir dan membuat jalan alternatif demi kenyamanan dan keselamatan bersama,” tegas warga.
“Bung”










