Jakarta — Australia, Filipina, dan Amerika Serikat (AS) melaksanakan Kegiatan Kerja Sama Maritim (MCA) multilateral di Zona Ekonomi Eksklusif (ZEE) Filipina pada 15–16 Februari 2026, di kawasan Laut Cina Selatan (LCS). Latihan ini menjadi sorotan Kementerian Luar Negeri (Kemlu) RI, yang menekankan pentingnya stabilitas dan kerja sama di kawasan tersebut.
Melalui Juru Bicara II, Nabyl Mulachela, Kemlu RI menyampaikan bahwa Indonesia memiliki berbagai inisiatif untuk membangun kepercayaan di kawasan. “Kita berharap setiap kegiatan yang dilakukan negara-negara di sekitar kita dapat mendukung upaya menciptakan stabilitas di LCS,” ujar Nabyl dalam press briefing di Jakarta, Kamis, 19 Februari 2026.
Menurut informasi resmi Kementerian Pertahanan Australia, partisipasi negara tersebut menunjukkan komitmen terhadap Indo-Pasifik yang damai, stabil, dan makmur. MCA menegaskan prinsip hukum internasional, termasuk kebebasan navigasi dan penerbangan sesuai Konvensi PBB tentang Hukum Laut, serta penghormatan terhadap Putusan Pengadilan Arbitrase Laut Cina Selatan 2016.
AS menegaskan latihan dilakukan sesuai hukum internasional, menjamin keselamatan, hak navigasi, dan kebebasan negara-negara lain di wilayah laut dan udara internasional. MCA bertujuan meningkatkan interoperabilitas, kemampuan tanggap keamanan, dan kerja sama ketiga negara di kawasan strategis ini.
Latihan melibatkan sejumlah aset militer, antara lain:
- Australia: Fregat kelas Anzac, HMAS Toowoomba, dan pesawat patroli maritim P-8A Poseidon.
- Filipina: Kapal BRP Diego Silang dengan helikopter AW109, pesawat FA-50PH, A-29 Super Tucano, dan kapal patroli Penjaga Pantai BRP Teresa Magbanua.
- AS: Kapal perusak USS Dewey dan pesawat patroli maritim P-8A Poseidon.
Latihan ini menjadi bagian dari upaya regional memperkuat keamanan maritim, sambil menegaskan prinsip hukum internasional dan hak-hak maritim semua negara.










