PERJUANGAN MELAWAN BANGSA SENDIRI, SULIT DIJELASKAN DENGAN KATA-KATA MANIS.

Halmahera Tengah, 20 April 2026 – kebenaran pahit yang seringkali kita rasakan namun sulit diungkapkan dengan bahasa yang indah: Berjuang melawan penjajah asing itu berat, tapi berjuang melawan sesama anak bangsa jauh lebih menyakitkan dan melelahkan.

Ketika musuh datang dari luar, kita tahu persis di mana letak pertempuran. Kita bisa bersatu, mengangkat senjata, dan berteriak melawan. Tapi ketika yang menindas, yang merampas hak, dan yang mematikan harapan justru orang-orang yang seharusnya satu darah, satu bahasa, dan satu tanah air—maka kata-kata manis tak lagi sanggup menggambarkannya.

Ini bukan sekadar sengketa lahan atau masalah bisnis biasa. Ini adalah luka yang dalam di dada bangsa. Bagaimana mungkin kita harus berhadapan dengan orang-orang yang seharusnya menjadi pelindung, namun justru bertindak lebih kejam daripada penjajah. Bagaimana mungkin kita harus berteriak meminta keadilan kepada mereka yang justru menjadi pelaku ketidakadilan

Perasaan ini rumit, campur aduk antara marah, kecewa, dan sedih yang tak bertepi. Kita marah karena hak dirampas, kita kecewa karena dikhianati, dan kita sedih karena yang melakukannya adalah saudara sendiri.

Tidak ada kata-kata manis yang bisa menutupi kenyataan pahit bahwa ada segelintir anak bangsa yang tega menginjak-injak martabat sesama demi kepentingan pribadi dan kelompoknya. Tidak ada bahasa yang halus yang bisa menjelaskan kenapa sebuah perusahaan yang beroperasi di bumi sendiri, justru memperlakukan pemilik sah tanah seperti orang asing yang tidak punya hak.

Mereka bicara soal pembangunan, mereka bicara soal investasi, tapi mereka lupa bahwa di balik angka-angka triliunan itu, ada air mata, ada penderitaan, dan ada hak hidup rakyat yang sedang dipijak.

Melawan bangsa sendiri itu sungguh melelahkan. Karena lawannya bukan hanya modal dan kekuasaan, tapi juga sistem yang dibuat untuk menindas sesama. Karena musuhnya bukan di depan mata dengan seragam berbeda, tapi seringkali tersenyum di depan sambil menikam dari belakang.

Namun, meskipun sulit dijelaskan, meskipun rasanya perih dan pahit, perjuangan ini tidak boleh berhenti. Karena diam berarti membiarkan kezaliman terus berjalan. Karena membiarkan sesama anak bangsa dizalimi oleh anak bangsa lainnya adalah pengkhianatan terbesar terhadap cita-cita kemerdekaan.

Biarlah kata-kata manis kita simpan untuk hal-hal yang indah. Untuk saat ini, kita cukup bicara dengan keberanian, ketegasan, dan bukti nyata. Karena keadilan tidak akan pernah datang dengan memohon-mohon dengan bahasa yang lembut kepada mereka yang sudah kehilangan nurani.

Keadilan harus direbut, Kebenaran harus ditegakkan

Dan siapapun itu baik asing maupun bangsa sendiri jika berbuat zalim, maka ia adalah musuh rakyat.

Penulis : Bung Nuel

Editor : Tim Redaksi

More From Author

MELIHAT KEKAYAAN BUDAYA HALMAHERA TENGAH, WARISAN LUHUR YANG TETAP DILESTARIKAN.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *