Jakarta – Target Presiden Prabowo Subianto untuk mencapai 100 persen energi terbarukan pada 2035 mendapat dukungan dari Foreign Policy Community of Indonesia (FPCI). Organisasi tersebut mendorong percepatan pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) hingga 100 gigawatt (GW) guna mempercepat transisi energi nasional.
Pendiri FPCI, Dino Patti Djalal, menyampaikan bahwa komitmen Presiden terhadap energi bersih menjadi momentum penting bagi Indonesia untuk melakukan lompatan besar dalam pengembangan energi terbarukan.
Ia menilai, selama satu dekade terakhir, peningkatan bauran energi terbarukan berjalan stagnan. Target bauran energi sebesar 23 persen belum tercapai karena minimnya investasi signifikan. Realisasi energi terbarukan dalam komposisi energi nasional masih berada di kisaran 11–13 persen.
Menurut Dino, kondisi tersebut mendorong FPCI untuk menginisiasi forum yang melibatkan para ahli di bidang energi, perubahan iklim, dan keberlanjutan. Langkah ini bertujuan merumuskan strategi percepatan transisi energi yang lebih konkret dan terukur.
FPCI menilai penambahan kapasitas energi surya hingga 100 GW dalam kurun 10 tahun merupakan target yang realistis, sejalan dengan perkembangan teknologi serta meningkatnya kebutuhan energi bersih.
Ia menegaskan bahwa transisi energi kini tidak lagi sekadar isu lingkungan, melainkan telah menjadi bagian dari persaingan ekonomi global. Setiap negara dituntut bergerak cepat agar tidak tertinggal dalam transformasi menuju ekonomi hijau.
Sementara itu, dalam Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) terbaru, pemerintah menetapkan energi surya sebagai salah satu prioritas utama dengan porsi pengembangan sekitar 17 GW. Hal tersebut disampaikan Direktur Jenderal Energi Baru, Terbarukan, dan Konservasi Energi (EBTKE), Eniya Listyani.
Selain PLTS, RUPTL juga mencakup pengembangan berbagai sumber energi bersih lainnya, antara lain Pembangkit Listrik Tenaga Arus Laut sekitar 40 megawatt (MW), Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir sekitar 500 MW, serta Pembangkit Listrik Tenaga Sampah sekitar 32 MW.
Percepatan pembangunan energi terbarukan diharapkan dapat memperkuat ketahanan energi nasional sekaligus mendukung komitmen Indonesia dalam menurunkan emisi karbon dan mencapai pembangunan berkelanjutan.










