LUKULAMO, HALMAHERA TENGAH, 21 April 2026 – Setiap tanggal 21 April, nama besar Raden Ajeng Kartini kembali bergema di seluruh penjuru negeri. Kutipan-kutipan bijaknya dibaca kembali, sosoknya diagungkan, dan semangat emansipasi diulang-ulang dalam berbagai seremoni peringatan.
Namun, di balik kemeriahan perayaan itu, terselip sebuah pertanyaan besar yang jarang mendapat jawaban nyata: Apakah terang yang diperjuangkan Kartini sudah benar-benar kita rasakan bersama ? Atau kita hanya sibuk merayakan simbol tanpa benar-benar menyentuh realitas yang ada
Kemajuan yang Belum Merata
Perempuan di era modern ini memang telah melangkah jauh. Mereka kini hadir dan berdiri tegak di ruang-ruang yang dulu tertutup rapat. Banyak di antara mereka yang kini memimpin lembaga, menentukan arah kebijakan, mengisi ruang publik, bahkan menjadi penentu wacana.
Namun sayangnya, kemajuan tersebut tidak serta merta menghapus seluruh ketimpangan. Perjuangan kesetaraan gender kini berubah bentuk—menjadi lebih halus, lebih kompleks, dan sering kali tidak kasat mata, namun tetap terasa menyakitkan.
Di banyak tempat, perempuan masih harus bekerja dua kali lebih keras dan membuktikan diri lebih hebat hanya untuk sekadar diakui setara. Suara mereka kerap dipertanyakan, keputusan mereka diragukan, dan keberanian mereka sering disalahartikan.
Ketika seorang perempuan bersikap tegas, ia sering dianggap melampaui batas. Namun ketika ia memilih diam, ia justru dianggap lemah. Ruang gerak mereka masih sering dikungkung oleh standar ganda yang tidak pernah benar-benar adil.
Ancaman di Era Digital dan Realitas Ekonomi
Yang lebih mengkhawatirkan, tekanan terhadap perempuan kini tidak hanya datang dari struktur sosial lama, tetapi juga dari ruang-ruang baru, termasuk dunia digital. Di sana, perempuan yang berani bersuara lantang justru kerap menjadi sasaran serangan, perundungan (bullying), hingga upaya pembungkaman. Kebebasan berekspresi yang seharusnya menjadi hak dasar, justru berubah menjadi medan perang yang tidak aman.
Di sisi lain, masih banyak perempuan di pelosok negeri—termasuk di daerah kita—yang bahkan belum sampai pada titik untuk “bersuara”. Mereka masih terjebak dalam realitas ekonomi yang membatasi pilihan, dalam sistem sosial yang menutup akses, dan dalam budaya yang menormalisasi ketidaksetaraan.
Bagi mereka, peringatan Hari Kartini bukan sekadar soal pengakuan atau seremoni, melainkan soal bertahan hidup dan memperjuangkan hak-hak dasar yang seharusnya didapatkan.
Refleksi untuk Kita Semua
Memperingati Hari Kartini seharusnya bukan hanya soal mengenakan kebaya atau membaca puisi. Ini adalah momen untuk merenung: sudahkah kita mewujudkan mimpi Ibu Kartini
Sudahkah kita menciptakan dunia di mana perempuan benar-benar bebas bermimpi, bebas berkarya, dan bebas bersuara tanpa rasa takut
Selamat Hari Kartini. Semoga semangatnya bukan hanya menjadi sejarah yang dibaca, tetapi menjadi kenyataan yang dirasakan oleh setiap perempuan, di mana pun mereka berada
“Red/Bung”










