Pontianak, Di tengah derasnya arus perubahan zaman, ketika manusia berlomba membangun gedung pencakar langit, pusat perbelanjaan megah, hingga tempat hiburan yang selalu dipenuhi pengunjung, ada satu bangunan yang seharusnya menjadi pusat kehidupan umat, tetapi terkadang justru paling sepi ketika adzan telah usai. Ironisnya, banyak orang rela menghabiskan waktu berjam-jam di tempat yang hanya memberikan kesenangan sesaat, namun merasa terlalu sibuk untuk sekadar menghadiri majelis ilmu di masjid. Inilah satire kehidupan modern yang sering kita anggap biasa, padahal sesungguhnya sedang mengikis ruh peradaban Islam.
Musyawarah Daerah Dewan Masjid Indonesia (DMI) Kota Pontianak Tahun 2026 yang digelar pada 24 Juli 2026 di Aula Rumah Dinas Wali Kota Pontianak membawa harapan besar melalui tema “Mari Jadikan Masjid sebagai Sarana Tempat Pembinaan Ummat.” Tema ini bukan sekadar rangkaian kata yang indah dipasang di baliho kegiatan, melainkan sebuah panggilan agar masjid kembali menjadi pusat lahirnya masyarakat yang berilmu, berakhlak, mandiri, dan saling menguatkan.
Ketua DMI Kota Pontianak, Ir. H. Edi Rusdi Kamtono, M.M., M.T., mengingatkan bahwa Kota Pontianak memiliki potensi luar biasa dengan sekitar 347 masjid dan lebih dari 600 musholla yang tersebar di berbagai wilayah. Angka ini bukan sekadar data statistik, melainkan aset peradaban yang nilainya jauh melampaui bangunan fisiknya. Bayangkan jika seluruh masjid bergerak serempak menjadi pusat pendidikan, pemberdayaan ekonomi, pembinaan generasi muda, pelayanan sosial, hingga penguatan ukhuwah. Maka sesungguhnya kita sedang membangun peradaban, bukan sekadar memperbanyak bangunan.
Komitmen Pemerintah Kota Pontianak yang setiap tahun mengalokasikan dana hibah sekitar Rp2 hingga Rp2,5 miliar bagi masjid menunjukkan bahwa perhatian terhadap rumah Allah bukan sekadar wacana. Namun bantuan sebesar apa pun tidak akan pernah cukup jika semangat memakmurkan masjid hanya dibebankan kepada pengurus. Masjid bukan milik takmir, bukan milik marbot, bukan pula milik pemerintah. Masjid adalah milik seluruh umat. Akan menjadi sebuah ironi apabila bangunannya megah, tetapi jamaahnya semakin menua tanpa regenerasi. Kubahnya bersinar indah pada malam hari, namun cahaya ilmu di dalamnya justru mulai redup.
Penguatan kualitas pelayanan masjid, percepatan sertifikasi tanah wakaf, hingga dorongan agar DMI semakin kreatif mengembangkan potensi ekonomi berbasis masjid menjadi langkah yang sangat strategis. Sudah saatnya masjid tidak hanya menjadi tempat menerima infak, tetapi juga mampu melahirkan berbagai program ekonomi umat yang sehat, produktif, dan berkelanjutan. Sejarah Islam telah membuktikan bahwa masjid sejak zaman Rasulullah SAW bukan hanya tempat shalat, melainkan pusat pendidikan, musyawarah, pelayanan masyarakat, hingga penguatan ekonomi.
Ketua PW DMI Provinsi Kalimantan Barat, Drs. H. Ria Norsan, M.M., M.H., semakin mempertegas arah perjuangan tersebut. Masjid harus menjadi pusat kegiatan umat, bukan hanya ramai ketika Ramadhan atau Idul Fitri. Keteladanan Masjid Jogokariyan Yogyakarta menjadi contoh nyata bahwa masjid mampu menjadi pusat pemberdayaan masyarakat ketika dikelola dengan visi yang besar, kepemimpinan yang amanah, dan pelayanan yang tulus. Masjid hidup bukan karena kemewahan bangunannya, melainkan karena hadirnya jamaah yang merasa memiliki.
Beliau juga mengingatkan pentingnya memperhatikan kesejahteraan para marbot yang selama ini menjadi penjaga rumah Allah dalam diam. Mereka mungkin tidak berdiri di atas mimbar, tidak tampil di depan kamera, bahkan jarang disebut dalam laporan tahunan. Namun merekalah yang membuka pintu masjid sebelum fajar, menjaga kebersihan, memastikan kenyamanan jamaah, hingga menjadi saksi paling setia kehidupan sebuah masjid. Menghargai marbot sejatinya adalah menghargai kemuliaan rumah Allah itu sendiri.
Firman Allah dalam Surah At-Taubah ayat 18 menjadi pengingat yang tidak pernah kehilangan makna, bahwa yang memakmurkan masjid Allah hanyalah orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari akhir, mendirikan shalat, menunaikan zakat, serta tidak takut kepada siapa pun selain Allah. Ayat ini menegaskan bahwa kemakmuran masjid bukan diukur dari besarnya kubah, tingginya menara, atau mahalnya pendingin ruangan, tetapi dari hadirnya manusia-manusia beriman yang menjadikan masjid sebagai pusat kehidupannya.
Musyawarah Daerah ini akhirnya kembali memberikan amanah kepada Ir. H. Edi Rusdi Kamtono, M.M., M.T. untuk memimpin Dewan Masjid Indonesia Kota Pontianak periode 2026–2031. Amanah tersebut bukan sekadar penghormatan atas kepemimpinan sebelumnya, tetapi juga harapan besar agar gerakan memakmurkan masjid semakin kuat, semakin luas, dan semakin dirasakan manfaatnya oleh seluruh masyarakat.
Kini pertanyaannya bukan lagi, “Apa yang sudah diberikan masjid kepada kita?” Melainkan, “Apa yang sudah kita berikan untuk masjid?” Sebab masjid yang makmur tidak lahir dari tepuk tangan, melainkan dari langkah kaki yang istiqamah menuju shalat berjamaah, dari tangan yang ringan berinfak, dari pikiran yang melahirkan program-program bermanfaat, serta dari hati yang tulus menjadikan rumah Allah sebagai pusat lahirnya generasi terbaik.
Mari kita hentikan kebiasaan mengagumi kemajuan orang lain sambil mengabaikan potensi yang Allah titipkan di sekitar kita. Sebab ketika 347 masjid dan lebih dari 600 musholla di Kota Pontianak benar-benar hidup, maka yang sedang dibangun bukan hanya bangunan ibadah, melainkan masa depan umat. Dari masjid yang makmur akan lahir masyarakat yang kuat, keluarga yang harmonis, generasi yang berakhlak mulia, ekonomi umat yang berdaya, dan persatuan yang kokoh. Itulah investasi peradaban yang nilainya tidak akan pernah habis, bahkan terus mengalir hingga akhir hayat.
Penulis Markus Yusran











