Jakarta – Menteri Komunikasi dan Digital, Meutya Hafid, menegaskan peran vital media arus utama dalam menjaga profesionalitas informasi publik. Pernyataan ini disampaikan di tengah derasnya arus disinformasi dan misinformasi yang beredar di ruang digital.
Meutya menekankan, kemajuan teknologi mempermudah penyebaran informasi yang tidak kredibel, sehingga berpotensi memengaruhi persepsi publik terhadap kebijakan nasional sekaligus posisi Indonesia di kancah internasional.
“Kita saat ini menghadapi misinformasi yang sangat tinggi. Media arus utama lah yang berperan menjaga profesionalitas dan menyampaikan informasi yang benar,” kata Meutya, Jumat, 20 Februari 2026.
Menkomdigi mengungkapkan banyak narasi keliru di media sosial yang memicu kesalahpahaman di masyarakat. Menurutnya, hal ini berisiko menenggelamkan diskusi konstruktif yang seharusnya berdampak positif bagi publik.
“Kita sulit membedakan suara yang membangun dan suara yang hanya noise. Ketika noise-nya tinggi, suara-suara yang baik akan cenderung tenggelam,” ujarnya.
Meutya mencontohkan isu luar negeri, seperti keanggotaan Indonesia dalam Board of Peace (BoP). Disinformasi terkait isu ini, menurutnya, bisa mengganggu posisi Indonesia dalam forum internasional.
“Pemerintah dikritik boleh saja. Tapi isu BoP juga terkait posisi tawar Indonesia di dunia,” tegas Menkomdigi.
Pernyataan ini sekaligus menekankan pentingnya kolaborasi antara pemerintah dan media arus utama untuk memastikan masyarakat menerima informasi yang akurat, terpercaya, dan konstruktif.










